Kenali 6 Tanda Lingkungan Kantor Toxic Ini!

sewa-kantor-jakarta-indonesia

Dalam kehidupan, terdapat berbagai macam keadaan lingkungan. Tidak jarang pula, lingkungan tersebur membawa dampak buruk bagi seseorang, baik itu secara fisik dan mental. Tidak terkecuali lingkungan kantor. Justru, lingkungan kantor memiliki potensi lingkungan buruk yang lebih parah dari lingkungan lainnya. Lingkungan yang membawa dampak buruk inilah yang disebut sebagai Toxic Environment. Oleh karenanya, kita patut mencari sewa kantor di jakarta selatan yang bebas dari masalah!

            Kenapa lingkungan kantor memiliki potensi yang lebih parah? Hal ini dikarenakan dunia kerja yang penuh dengan persaingan. Tidak jarang pula terjadi penusukan dari belakang antar sesame karyawan demi mendapat posisi dan uang. Belum lagi dari bos ataupun senior yang memanfaatkan posisinya untuk menindas karyawannya demi kepentingan pribadi semata.

            Nah, kita tentu saja tidak mau berada di lingkungan tersebut berlama – lama. Akan tetapi, sering kali dari karyawan tidak menyadari kalau dirinya berada di lingkungan kantor yang toxic. Hal ini dikarenakan kebiasaan menggeneralisasi, bahwa ‘ beginilah lingkungan kerja ‘. Karena itulah, dalam artikel ini, yuk ketahui tanda tanda lingkungan kerja yang toxic!

  1. Moral Rendah

Ketika lingkungan kantor terasa berat dan tidak ada motivasi, maka besar kemungkinannya kalau kita berada di lingkungan kerja yang toxic. Jika hal ini terasa sesekali, tidak ada masalah, karena itulah dinamisme kehidupan. Ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Namun, jika selalu terjadi seperti ini, maka patut diperhatikan lebih.

Jika lingkungan kerja kita sehat, aka nada banyak hal positif didalamnya. Seperti sering tersenyum, bicara dengan sopan dan hal lannya bisa menularkan rasa semangat dan moral tinggi dalam menyelesaikan jobdesc.

  • Kurang Komunikasi

Salah satu kunci dari suksesnya suatu pekerjaan adalah adanya komunikasi antara karyawan dan atasan. Ketika ada masalah, semua bisa dibicarakan dengan baik, pun dengan mengusulkan ide – ide cemerlang tak perlu merasa kaku. Selain itu, karyawan akan merasa dihargai bila didengarkan.

Jika komunikasi hanya ada satu arah ( atasan ke karyawan, tidak ada karyawan ke atasan ), maka masalah yang timbul tidak dapat dilurukan. Selain itu, pekerjaan akan menjadi monoton, itu – itu saja dan tidak ada perkembangan yang signifikan. Karyawan pun akan merasa terkucilkan, tidak dipedulikan, yang mana akan mempengaruhi kondisi psikologinya

  • Rasa Takut Pada Atasan

Hal ini ada hubungannya dengan poin nomor 2 diatas, dimana karyawan takut menyampaikan aspirasinya kepada atasan. Ada perbedaan yang besar antara dihormati dengan ditakuti. Ketika dalam meeting hanya bos yang berbicara, saat karyawan berjalan di koridor dan hendak berpapasan bertemu bos malah menghindar, disitulah adanya lingkungan yang tidak sehat.

Bos memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi dan lingkungan kantor. Apakah para karyawan akan merasa tenang nan nyaman, ataukah merasa tertekan sehingga terciptalah lingkungan yang toxic, itu semua bermuara dari sang Bos.

Karena sejatinya, ketika sang Bos berperilaku buruk, secara tidak langsung dia mempromosikan / mencontohkan kepada bawahannya, bahwa “ inilah cara berkantor yang sesungguhnya “. Kebiasaan buruk ini akan menurun pada kepala divisi dan atasan atasan lainnya.

  • Kebijakan Menekan

Kebijakan yang telah ditetapkan seharusnya mendorong karyawan untuk semakin baik. Akan tetapi, tidak jarang ada beberapa kantor yang lebih menginginkan “ robot “ yang kaku ketimbang “ manusia “ yang fleksibel. Setiap aksi disetir oleh perusahaan hingga tidak ada toleransi terhadap kesalahan. Bahkan, karyawan terbaik sekalipun tak luput dari kesalahan.

Hal ini akan menyebabkan karyawan merasa stress dan tertindas. Karyawan pun tidak ingin berinovasi dikarenakan resiko yang akan menantinya bila tidak mengikuti kebijakan.

  • Banyak Pergantian Karyawan

Meskipun semua orang sering dimotivasi untuk ‘ mencari kesempatan yang lebih baik ‘, jika karyawan sering gonta ganti, maka ada yang salah dengan lingkungan perusahaan tersebut. Ini menandakan kalau mereka tidak betah di perusahaan tersebut. Jika hal ini terus berlanjut, senior akan kewalahan untuk melatih pekerja baru, hingga berujung bangkrut

  • Main Circle – Circle an

Inilah bahasa kalangan muda jaman sekarang, ‘ circle ‘ atau sering diplesetkan menjadi sirkel. Pada dasarnya, sirkel adalah lingkup kelompok yang terdiri dari beberapa orang yang memiliki kemiripan yang sama. Budaya sirkel ini memiliki kecenderungan untuk memojokkan satu kelompok atau individu tertentu yang dipandang lebih rendah dari mereka. Jika di perusahaan kita terdapat hal seperti ini, maka perlu diwaspadai.

Itulah 6 tanda – tanda yang bisa menjadi patokan kita untuk menilai, apakah lingkungan kantor kita termasuk toxic atau tidak. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang efektif dan sehat, diperlukan kesadaran dari semua lapisan.

Leave a comment

Your email address will not be published.